Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Kunci Kesuksesan

Oleh : Pirman

dakwatuna.com - Islam sebagai rahmat bagi semesta merupakan paket lengkap yang tidak memerlukan tambahan sedikit pun. Ia adalah sebuah ajaran multi dimensi yang bisa dipraktekkan di segala bidang, di semua tempat. Ia ibarat rumah yang bisa memenuhi semua kebutuhan penghuninya, bahkan ia bisa turut memfasilitasi orang-orang yang berada di luar rumah itu.

Di dalam Islam, terdapat banyak cara yang memang sudah Allah siapkan penganutnya mencapai kesuksesan (kebahagiaan) di dunia, terlebih kesuksesan abadi di akhirat kelak. Bahkan, hanya dengan melaksanakan satu cara saja, maka kesuksesan bisa digenggam oleh seorang hamba yang benar dalam meyakini dan menjalaninya. Tentunya, jika hal tersebut dilakukan dengan benar sesuai dengan apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadits Rasul.

Salah satu cara yang bisa ditempuh agar seorang hamba mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat itu adalah Tawakal. Sebuah kata multi makna yang seringkali disalahmaknai oleh umat Islam itu sendiri. Di mana tawakal sering dipahami sebagai pasrah tanpa upaya. Hal inilah yang perlu diluruskan agar umat Islam kembali memegang tampuk kekuasaan dunia guna menebarkan kejayaan di semua bidang.

Disebutkan dalam sebuah riwayat oleh Ibnu Hibban, bahwa ada seorang badui yang tidak mengikat untanya dengan berdalih bahwa ia bertawakal. Lantas, sang nabi pun bersabda, “Ikatlah untamu dan bertawakallah.”
Kita juga mendapati bahwa Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shidiq bersembunyi di gua Tsur saat dikejar orang-orang kafir dalam peristiwa hijrah. Sedangkan jika mau, maka beliau berdua bisa saja menampakkan diri karena keduanya dalam lindungan Allah. Namun, persembunyian yang dilakukan oleh keduanya adalah satu sarana ikhtiar yang kemudian dengannya mereka bertawakkal.

Di dalam setiap peperangan pun demikian. Beliau memakai baju besi, mempersiapkan senjata, bekal juga strategi sebagai wujud ikhtiar. Dan selebihnya, kaum muslimin bertawakal. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Maka, tawakal adalah mengambil sebab yang diperintahkan kemudian menyerahkan urusannya kepada Allah.

Ciri Keimanan

Iman adalah kombinasi antara yakin, ucapan dan tingkah laku. Maka iman, mempunyai bermacam ciri. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (QS al-Anfal [8]:2)

Tawakal merupakan satu dari sekian banyak ciri keimanan seorang hamba. Dalam banyak ayat, Allah juga berkali-kali menegaskan bahwa yang bisa melakukan tawakal hanyalah orang-orang yang benar Islam dan imannya.

Berkata Musa, “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.” (QS Yunus [10]: 84) Tawakal, adalah bukti, apakah keyakinan kita kepada Allah sekadar ucapan, atau benar adanya, “Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS Ali Imran [3]:122)

Kunci Kesuksesan

Kesuksesan sejati bagi seorang muslim yang mukmin adalah ketika mereka bisa meyakini Allah di atas segalanya. Maka tawakal merupakan sebuah pengakuan tulus bahwa manusia sejatinya memang lemah sedangkan Allah Maha Kuat atas segala sesuatu. Sehingga, mereka menggantungkan semuanya kepada Sang Maha setelah usaha yang dilakukan mencapai derajat maksimal.

Tawakal adalah sebuah janji dari Allah. Bahwa siapa yang melakukannya, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS ath-Thalaq [65]:3)

Dalam menafsirkan ayat ini, Sayyid Quthb mengatakan, “Maka sikap bertawakal kepada Allah adalah sikap bergantung dan berserah diri kepada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan kekuatan yang Maha Perkasa, yang Maha Berkehendak atas apa yang diinginkanNya, yang Maha Menyempurnakan atas apa yang dikehendakiNya.

Terkait tawakal sebagai cara agar semua kebutuhan tercukupi, Umar bin Khaththab mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepadamu sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat pagi hari dalam keadaan lapar lalu pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (HR Tirmidzi, hadits hasan)

Burung yang pergi mencari makan di pagi hari tidaklah membawa bekal apa-apa. Hanya berbekal insting, mereka terbang dari satu tempat menuju tempat lainnya. Dan karena upayanya itu, karena geraknya itu, Allah memberikan mereka anugerah rezeki yang tak terhingga sehingga ketika sore menjelang, tembolok mereka sudah penuh dengan makanan yang Allah berikan.

Agar Tidak Diganggu Setan

Sayangnya, dalam proses menuju kepada kesuksesan itu, setan sebagai satu-satunya musuh abadi umat manusia tidak akan pernah diam. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa setan akan mencari masa sebanyak-banyaknya untuk diajak masuk ke dalam neraka jahannam. Hebatnya, mereka sudah diberi otoritas oleh Allah untuk menggoda manusia agar tersesat dengan berbagai cara, dalam setiap kondisi, di sepanjang kehidupan hingga kiamat terjadi.

Oleh karena itu, kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar terlindung dari godaan setan yang terkutuk. Dalam sebuah ayat disebutkan bahwa tawakal merupakan jalan yang dijamin oleh Allah. Bahwa ketika kita melalui jalan tersebut, setan tidak akan bisa mengganggu kita. “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS an-Nahl [16]:99)

Dicintai Allah dan Dijamin Surga

Dalam proses perjalanan spiritual seorang hamba, dicintai Allah merupakan tujuan yang tidak bisa ditawar lagi. Bahkan, kaum sufi seringkali mengatakan bahwa surga yang didapatkan pun akan sia-sia belaka ketika cinta dari Allah tidak mereka dapatkan. Maka dicintai Allah, adalah harga mati agar nikmat yang diberikan, di dunia atau akhirat, berupa senang atau susah, bisa menjadikan seorang hamba makin dekat denganNya. Karena kedekatan dengan Allah merupakan salah satu indikasi apakah seseorang dicintaiNya, atau sebaliknya.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran [3]:159). Dalam ayat ini Allah menegaskan. Bahwa tawakal merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh bagi siapa saja yang ingin dicintai oleh Allah. Dalam ayat ini, tawakal juga berkedudukan sama dengan taqwa, ikhlas dan aneka amal shalih lainnya, di mana pelakunya bisa mendapatkan ganjaran dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Maka, ketika Allah sudah mencintai seorang hamba, penduduk langit dan bumi pun akan berbondong-bondong mencintai hamba tersebut. Sehingga surga yang Allah janjikan, akan diberikan kepada siapa yang dicintaiNya. Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, “Beberapa kaum yang hatinya seperti burung (bertawakal), akan masuk surga” (HR Muslim). Sedangkan dalam hadits lain disebutkan, “Surga akan dimasuki oleh 70.000 orang tanpa hisab. Mereka adalah orang-orang yang tidak membakar dirinya dengan besi, tidak minta dijampi-jampi, tidak merasa sial karena adanya sesuatu dan bertawakal kepada Tuhannya.” (HR Bukhari)

Yang perlu dicatat, bahwa tawakal dilakukan setelah ikhtiar manusiawi dilakukan dengan sempurna. Kemudian kita menyerahkan semuanya kepada Allah yang Maha Kuasa. Semoga kita termasuk dalam kalangan orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Sehingga kesuksesan di dunia dan akhirat akan Allah berikan kepada kita. Aamiin. Wallahu A’laam bish-Showab.

Kamis, 24 Januari 2013

Melukis di Bibir, Mengotori di Perbuatan


Oleh : Dedi Setiawan

"Hari ini manusia kehilangan eksistensi. Cita-cita tanpa orientasi.Visi tanpa ideologi. Raga bergerak tanpa jiwa, tanpa rasa. Menapaki hari-hari dengan payah yang kian bertambah. Dunia menguasai jiwa. Kemuliaan luruh bersama tetes-tetes peluh kehinaan. Manusia jatuh dalam lembah nadir kehinaan”.
 
Belakangan ini kita dihadapkan pada banyak cita-cita mulia dunia, namun sayang orientasinya tidak begitu jelas. Mungkin saat ini kita hanya jadi pengikut, tanpa mengetahui dengan pasti apa makna dari sesuatu yang kita ikuti itu. Ya, mungkin karena makna yang tidak begitu jelas itu, ditambah lagi orientasinya yang masih samar-samar, diperparah dengan hilangnya teladan untuk dicontoh, banyak diantara kita yang “hanya” bergerak, tapi tanpa jiwa, tanpa rasa. Mungkin banyak diantara kita yang telah benar-benar menjadi “mayat hidup” dalam arti yang sebenarnya. Hiy, mengerikan!

Adalah amerika, sebuah negara adidaya saat ini, yang menggaungkan demokrasi. Amerika berteriak lantang mengumbar janji-janji manis seputar demokrasi; diantaranya adalah keadilan yang merata, aspirasi rakyat diakomodasi, menjunjung tinggi pemilihan pemimpin yang dipilih oleh rakyat berdasarkan hasil pemilu (pemilihan umum). Tapi, beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan sikap Amerika terhadap terhadap kemenangan Hamas (Harakah Muqawamah Islamiyyah) dalam pemilu di Palestina. Semua pihak yang menjadi pemantau pemilu tersebut mengakui bahwa pemilu tersebut adalah pemilu yang demokratis dalam arti yang sebenar-benarnya, tanpa kecurangan dan politik uang. Tapi, Amerika dengan arogan memboikot hasil pemilu tersebut. Dan Amerika menekan semua fraksi yang ada di Palestina untuk tidak ikut dalam pemerintahan koalisi Hamas. Ini berarti, Amerika menghambat salah satu langkah demokrasi yang diambil oleh Hamas, yaitu power sharing. Apalah daya sebuah pemerintahan yang bergerak sendirian, sedangkan yang lain menjadi oposisinya. Air mata kita pun mungkin telah berderai deras menyaksikan penghancuran terstruktur yang terjadi di bumi Palestina. Dengan didalangi oleh Amerika dan Israel, pemerintahan Palestina diboikot, sarana umum dihancurkan, rumah-rumah di ratakan dengan tanah, pemudanya ditahan. Lalu, diamkah umat islam? Tidak! Bantuan mengalir untuk saudara tercinta di Palestina. Tapi sekali lagi, uang tersebut dihalang-halangin untuk masuk ke palestina. Palestina pun terluka, rakyatnya menderita, dan umat islam berduka.

Sebenarnya ini bukan trend baru kelompok pembenci Islam. Jauh-jauh hari sebelum peradaban Amerika yang sombong, angkuh, dan kotor terbentuh, nenek moyang kaum munafik, yang senantiasa mengucapkan hal-hal yang baik di depan, tetapi menikam dari belakang, telah memberi contoh kepada calon pengikutnya. Maka saat ini tercatatlah sejarah menjijikkan tentang Abdullah bin Ubay, dedengkot kaum munafik, yang pada perang Uhud, dengan teganya menarik pasukannya dari satuan perang yang dikomandani oleh Rasulullah, padahal sebelumnya ia telah bersedia untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Di saat-saat ke dua pasukan saling mengintai, di saat itulah Abdullah bin Ubay melakukan teror terhadap pasukan kaum muslimin, bukan teror dari luar, tapi teror dari dalam, tepat dari jantung pertahanan kaum muslimin. Ia menarik pasukannya dari medan peperangan. Tahu benar rupayanya ia bagaimana menjatuhkan mental pasukan kaum muslimin, hingga hasil pemboikotannya itu mengakibatkan jumlah pasukan kaum muslimin berkurang hingga sepertiga dari jumlah semula. Akhir perang ini begitu memilukan, pasukan muslimin ditekan, para syuhada dicincang, bahkan Rasul pun mendapat luka di wajahnya. Ya Allah, wajah mulia nan bersahaja itu pun harus terluka berdarah-darah.

Penghianatan selalu menimbulkan luka bagi yang dihianati. Sakit, perih, dan menimbulkan rasa benci yang tak berkesudahan. Bagi orang yang dihianati, ia adalah duri dalam daging. Bagi orang yang ia bantu dengan tingkah penghianatannya, ia tidak lebih bagai anjing penjilat. Maka tidaklah salah sikap Napoleon yang melemparkan uang seraya mengatakan “Tidak, penghianat bangsa sepertimu tidak patut mendapatkan kehormatan, ambil uang yang menjadi impian tertinggimu, itulah nilai dirimu”, kepada seorang penghianat bangsa ketika sang penghianat berkata “izinkan aku mencium tanganmu”.

Begitulah sejarah mengungkapkan bahwa orang paling berbahaya adalah orang yang manis tutur katanya tapi licik perbuatannya. Kata-katanya seindah mawar yang merekah seraya menyebarkan aroma yang harum semerbak, tapi perbuatannya hina bagai bangkai yang menjijikkan. Bagaimana dengan kita, apakah kita orang yang senantiasa mendengungkan kebaikan tapi perbuatan kita menunjukkan keburukan? Semoga saja kita mampu menjawab dengan tegas, Bukan!!!

Selasa, 25 Desember 2012

Karena Engkau Pasti Akan Meninggalkannya

Oleh : M. Lili Nur Aulia

Sejauh mana kita pernah merenungi kematian? Jika ternyata tak lama lagi jatah hidup ini sampai pada titik penghabisannya. Saat ruh melayang, dan tak mungkin kembali lagi ke jasad. Jasad yang sudah puluhan tahun menjadi tempat semayamnya. Mungkin dua puluhan tahun, tiga puluhan tahun, empat puluhan tahun, sampai seterusnya. Ketika ruh dalam tubuh ini pergi melepas semua yang kasat. Meninggalkan semua yang pernah tersentuh di dunia. Dan, sekali lagi, ia tidak akan pernah kembali lagi. Takkan pernah kembali lagi.

Saudaraku,
Bagaimana kabar dunia yang kita tinggalkan? Lebih mengerikan lagi, bagaimana kabar akhirat yang akan menjadi tempat tinggal? Apa yang sudah kita lakukan dengan jasad ini, sepanjang puluhan tahun? Ada berapa banyak penggalan usia yang kita gunakan untuk menanam kebaikan di alam setelah di dunia ini? Ada berapa lama waktu yang kita luangkan untuk menghamba, tunduk, terpekur, dzikir, beribadah kepada Allah swt yang telah memberi kehidupan ini?

Saudaraku,
Sudah sejak dahulu, kita diseru untuk mengambil perbekalan untuk menghadapi kematian itu. Kita pun yakin, kelak kita akan bertemu Allah swt. Berhadapan dengan Allah swt tanpa perantara dan tanpa penerjemah. Berdiri di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Ketika, tangan, kaki dan semua tubuh kira berbicara tentang apa yang kita lakukan. Dengarkanlah nasihat Jibril alaihissalam kepada Rasulullah saw, "Ya Muhammad, hiduplah semaumu, karena sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapapun yang engkau cintai sekehendakmu, karena engkau pasti berpisah dengannya. Lakukanlah apa yang engkau ingin lakukan, karena engkau pasti akan diberi balasan atas perbuatanmu." (HR.Hakim)

Saudaraku,
Ulang-ulanglah nasihat Jibril itu di telinga, pikiran dan hati kita...

Saudaraku,
Hiduplah sesuka kita, karena kita akan mati. Lakukanlah apapun yang kita suka. Karena semua akan berbalas. Berapapun panjangnya usia yang diberikan. Akan ada batasnya. Sepanjang apapun waktu yang dijatah. Kematian sedang dalam perjalanan menuju kita. Tanpa ada yang tahu kapan ia datang menjemput. Lalu, bagaimana keadaan kita yang akan didatangi kematian?

Dahulu, karena keshalihannya, orang-orang shalih sangat optimis dengan apa yang mereka lalui selama di dunia. Mereka mungkin berlinang air mata saat mengingat kematian. Tapi mereka optimis dengan kehidupan yang dilaluinya, karena keshalihannya. Ibrahim bin Adham rahimullah pernah mengatakan, "Kami berada di sebuah kehidupan, yang bila nikmatnya hidup ini diketahui raja-raja, niscaya mereka akan menguliti kita dengan pedang-pedangnya." Sangat berbeda sekali dengan sebagian kita. Meski dengan limpahan karunia yang luar biasa, namun tetap banyak keluhan dan rintihan tidak syukur atas kenikmatan yang Allah berikan. Jauh sekali kondisinya dengan sebagian kita. Yang melalui hidup dengan pertolongan, bantuan, dukungan Allah swt hingga saat ini, tapi tetap tidak merasa kehidupan ini membahagiakan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah, tokoh salafushalih yang banyak mengorbankan hidupnya untuk mengabdi pada ilmu dan dakwah juga mengatakan sesuatu yang mirip dengan ungkapan Ibrahim bin Adham. Katanya, "Sungguh ada suatu kondisi yang melintas pada hati, saya katakan, "Bila penduduk surga merasakan kondisi kami, niscaya mereka sudah merasakan kehidupan yang baik. "Ia juga mengatakan, "Sungguh ada beberapa kondisi yang melintas pada hati yang bergemuruh oleh bahagia karena dzikir kepada Allah swt dan merasa rindu dengan-Nya."

Saudaraku,
Mengapa kita jarang sekali merasakan kenikmatan hidup seperti mereka? Mengapa kita sangat sulit memahami keindahan yang mereka ungkapkan itu? Lalu kita pun merasa tak berhak memiliki harapan kebahagiaan di akhirat kelak. Sangat jauh dengan sikap Ibnu Taimiyah rahimahullah. Saat dimasukkan ke dalam penjara dan pintu penjara ditutup di hadapannya, ia sempat melantunkan firman Allah swt surat Al Hadid ayat 13, "Fadhuriba bainahum bi suurin lahuu baabun baathinuhu fiihirrahmah wa zaahiruhuu min qibalihil azaab"... Lalu dijadikan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya (sesungguhnya) adalah rahmat namun di sebelah luarnya tampak (seperti) siksa..." Lalu sang hamba Allah itu mengatakan, "Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku? Diriku adalah surgaku. Taman bagiku adalah isi dadaku. Dimanapun aku berada ia bersamaku. Jika mereka membunuhku, maka kematianku adalah mati syahid. Dan bila mereka mengusirku dari tanah airku, maka itu adalah wisata, dan bila mereka memenjarakanku, maka itu adalah khalwat (penyendirianku) bersama Allah swt." Bagi sang Imam, tak ada sejumput ruang waktu yang menyurutkan kesyukuran dan kebahagiaannya. Baik di dunia maupun di akhirat.

Saudaraku,
Merekalah orang-orang yang mengatakan, "Apa yang bisa diperoleh dengan kehilangan Allah swt? Apa yang bisa hilang bagi orang yang mendapatkan Allah swt? Siapapun yang mendapatkan Allah berarti ia akan mendapatkan semuanya. Siapapun yang kehilangan Allah ia kehilangan semuanya." Di antara mereka ada yang mengatakan. "Mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Laailaaha illallah, Allahu Akbar, itu lebih aku sukai daripada apa yang disinari matahari." Bahkan mereka sangat mensyukuri apa yang mereka alami, meski kondisi mereka berbeda jauh secara lahir dengan para pemilik harta. Seorang salaf mengatakan pada orang-orang kaya, "Kami makan, mereka juga makan. Kami minum, merekapun minum. Kami melihat, merekapun melihat. Tapi, kami tidak dihisab karena kekayaan kami, sedangkan mereka akan dihisab karena kekayaan mereka."

Saudaraku, 
Jika kematian itu tiba, kita pasti bertanya, bagaimana kabar dunia yang kita tinggalkan? Lebih mengerikan lagi, bagaimana kabar akhirat yang akan menjadi tempat tinggal?

Sumber : Majalah Tarbawi, Edisi 191 Th. 10, Dzulqa'dah 1429 H / 27 November 2008 M.